Penyakit TBC

Apa Penyebab, Gejala, dan Pengobatan yang Tepat Penyakit TBC

Banyak yang salah kaprah bahwa TBC sama seperti halnya batuk biasa. Padahal, sejatinya batuk ini lebih berbahaya ketimbang batuk biasa. Oleh karena itu, penanganan dari batuk akibat penyakit TBC (tuberculosis) berbeda penangananya.

TBC ini juga dikenal dengan penyakit yang menular. Tak heran bila penyebarannya juga relatif cukup mudah dan cepat karena bisa melalui udara. Untuk penderita TBC kerap memiliki riwayat tertular dari penderita lainnya. Penyakit TBC ini menyerang paru-paru, yang disebabkan oleh basil Mycrobacterium Tuberculosis.

 

Bila Tertular, Gejala ini yang Akan Muncul pada Penderita TBC
Waspadai tanda dan gejala penyakit TBC yang menyerang

Penyakit TBC memang tidak mudah dikenali pada stadium awal. Sebab gejalanya memang mirip dengan batuk pada umumnya. Sesaat setelah tertular, gejala-gejala yang muncul terlihat biasa saja seperti orang terkena flu.

Bagaimana gejalanya?

Gejala TBC biasanya batuk, nafsu makan menghilang, demam dan keringat dingin pada malam hari, batuk berdarah, kurang berenergi, rasa nyeri di dana, dan batuk berdahak dengan waktu yang berlangsung cukup lama yakni sekitar 21 hari.

Penyakit TBC ini mudah menyerang apabila sistem kekebalan tubuh sedang menurun. Sehingga jika sistem kekebalan tubuh Anda baik-baik saja dan dalam kondisi prima, jangan khawatir akan penyakit TBC ini.

Akan tetapi, tak jarang sistem kekebalan tubuh ini gagal melawan dan melindungi dari serangan TBC karena sistem kekebalan tubuh seringkali juga berfluktuatif dengan cepat karena berbagai faktor. Dan biasanya, meski sudah diberantas oleh sistem kekebalan tubuh, basil ini juga bisa saja tetap aktif. Nah, kondisi inilah yang disebut TBC laten.

Sementara itu, bila basil TBC ini berkembang hingga menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru, maka selanjutnya akan menimbulkan kondisi yang disebut dengan tuberculosis aktif.

Bagaimana Proses Diagnosa Risiko Tinggi TBC?

Gejala TBC hampir sama dengan beberapa gejala penyakit pernafasan lainnya. Oleh karena itu, penting untuk mengkonsultasikan ke dokter guna menjalankan diagnosa yang tepat. Sehingga bisa diketahui dengan pasti apakah Anda tertular TBC atau tidak.

Dokter biasanya akan menjalankan diagnosis, terdiri dari tes darah, tes dahak, rontgen dada, dan Mantoux test. Tes tersebut dilakukan untuk mengetahui jenis tuberculosis tersebut apakah laten atau aktif. Siapa saja yang termasuk dalam kelompok TBC?

-Perokok aktif
-Pengguna narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya
-Sering berhubungan dengan pengidap TBC aktif
-Orang yang sering menjalani kemoterapi
-Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah
-Pengidap HIV/AIDS

Oleh sebab itu, melakukan diagnosa TBC secara dini diperlukan, agar tidak berkembang dari tuberculosis laten menjadi tuberculosis aktif. Ini sebagai langkah pencegahan sekaligus untuk mempermudah pengobatan. Sebab hanya dengan pengobatan yang tepat saja, maka risiko komplikasi yang muncul akibat penyakit TBC dapat dicegah.

Baca Juga: Penyakit Sinusitis

 

TBC memang dapat disembuhkan dengan pengobatan yang benar dan tepat tentunya. Secara umum, pengobatan TBC saat ini dijalankan dengan memberikan beberapa jenis antibiotic kepada pengguna dengan dosis yang tepat, serta dalam jangka waktu tertentu.

Vaksin juga diberikan sebagai langkah pencegahan. Vaksin ini disebut dengan BCG (Bacillus Calmette-Guerin) dan vaksin jenis ini di Indonesia telah diberikan pada bayi-bayi yang belum berusia 2 bulan serta masuk dalam imunisasi dasar.

Langkah pengobatan serta pencegahan TBC sangatlah penting untuk dilakukan. Mengingat penyakit ini tergolong berat dan menular, dengan skema penularan yang relatifcukup mudah, yakni melalui pernapasan. Terlebih lagi juga terdapat risiko komplikasi yang mungkin saja terjadi, yakni:

-Meningitis
-Kerusakan sendi
-Gangguan organ tubuh, seperti ginjal, hati, jantung
-Merasa nyeri pada punggung

Mengingat besarnya risiko yang bisa muncul karena penyakit TBC ini, maka pengobatan yang diberikan dalam bentuk antibiotik juga sangat beragam. Obat-obatan yang biasa diberikan oleh dokter untuk pengidap TBC aktif antara lain:

-Isoniazid
-Rifampicin
-Pyrazinamide
-Ethanol

Obatan-obatan tersebut mengandung efek samping, seperti dapat menurunkan efektifitas alat kontrasepsi yang mengandung hormon. Efek samping yang demikian terutama terjadi untuk pengguna obat antibiotik seperti rifampicin.

Sementara itu, untuk ethambutol, berpengaruh pada kondisi penglihatan. Begitu juga dengan isoniazid yang berpotensi merusak saraf.

Selain itu, juga terdapat efek samping umum, seperti muntah, mual, penurunan nafsu makan, sakit kuning, perubahan warna urine menjadi lebih gelap, demam, gatal-gatal, dan ruam pada kulit.

Meski demikian, pengidap diharuskan mengonsumsi antibiotik selama lebih kurang lebih 2 minggu, dan untuk memastikan kesembuhan, dokter biasanya mengharuskan konsumsi antibiotik selama 6 bulan.

Obat resep yang diberikan untuk pengidap TBC harus diminum hingga waktu yang dianjurkan. Ini dikarenakan meski kondisinya membaik, pengidap TBC masih mungkin untuk menurun kembali kondisinya.

Hal yang harus dihindari agar tidak terkena penyakit TBC

Apabila kita telah mengetahui bahwa orang disekeliling kita atau bahkan salah satu keluarga kita ada yang menderita penyakit TBC, pastinya kita tidak mau kan jika nanti ikut tertular ? Berikut ini merupakan hal yang harus kita lakukan agar tidak tertular penyakit TBC yaitu :

Hindari menggunakan peralatan makan yang sama dengan penderita TBC.
Menggunakan masker pada saat hendak berinteraksi dengan penderita TBC.
Bantu hindari anak – anak dan juga balita dari penderita TBC.
Makan – makanan yang bergizi.
Memperbanyak mengkonsumsi suplemen kesehatan, agar dapat menjaga kekebalan tubuh.

Langkah awal yang harus dilakukan bagi penderita TBC

Bagi Anda yang telah menderita penyakit TBC, ada banyak hal yang harus Anda lakukan agar tidak memperparah penyakit TBC Anda, yaitu:

Setiap hari Anda harus rajin mengkonsumsi sayuran dan buah – buahan dalam jumlah kalori yang tepat dan harus sesuai dengan rekomendasi dari dokter.
Dalam satu hari Anda harus 3 kali mengkonsumsi susu atau produk olahan susu lainnya. Hal ini disebabkan karena seseorang yang menderita penyakit TBC sangat membutuhkan asupan kalsium yang tinggi.
Jika ingin mengkonsumsi daging, maka pilihlah daging tanpa lemak atau rendah lemak. Kemudian jagalah asupan total lemak dan minyak Anda antara 25 – 30% kalori perhari.
Konsumsi makanan yang kaya akan protein, contohnya saja seperti kacang – kacangan dan juga biji – bijian.
Makanan yang dikonsumsi oleh penderita TBC, harus dimasak secara matang agar mudah dicerna oleh penderita.

Jadi, sejak dini perhatikanlah kesehatan tubuh Anda dan juga orang – orang disekeliling Anda, dan perhatikan apakah ada yang menderita penyakit TBC atau tidak. Karena apabila terlambat menyadari, maka akan semakin sulit pula untuk proses pengobatannya. Segera lakukan pemeriksaan tes darah untuk mendeteksi kondisi kesehatanmu.

Semoga bermanfaat kawan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s